Jakarta, 18 Mei 2026 – Di tengah kerasnya tekanan ekonomi, seorang ibu di Sumatera Barat menjalani pekerjaan memilah hingga satu ton sampah plastik setiap pekan demi memperoleh penghasilan sekitar Rp 500.000 untuk menyekolahkan anak-anaknya. Kisah tersebut menggambarkan perjuangan masyarakat kecil yang tetap bertahan dengan pekerjaan berat demi memastikan pendidikan anak tidak terputus oleh keterbatasan ekonomi. Setiap hari, perempuan tersebut harus bergelut dengan tumpukan limbah plastik, bau menyengat, dan kondisi kerja yang melelahkan untuk mengumpulkan bahan daur ulang yang kemudian dijual kepada pengepul. Meski penghasilannya tidak besar, ia mengaku pendidikan anak menjadi alasan utama dirinya terus bertahan menjalani pekerjaan yang menguras tenaga tersebut.
Pengamat sosial menjelaskan sektor pengelolaan sampah informal selama ini menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga berpenghasilan rendah di berbagai daerah Indonesia. Para pekerja pemilah sampah biasanya mengandalkan hasil penjualan plastik, kardus, logam, dan berbagai limbah daur ulang lain dengan nilai ekonomi tertentu. Namun pekerjaan tersebut umumnya dilakukan dalam kondisi minim perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja, padahal mereka setiap hari terpapar debu, kotoran, hingga risiko penyakit dari limbah rumah tangga maupun industri. Meski sering dipandang sebelah mata, keberadaan pekerja sektor informal pengelolaan sampah sebenarnya memiliki peran penting dalam membantu proses daur ulang dan mengurangi beban lingkungan.
Selain menjadi cerita perjuangan ekonomi, kisah ibu tersebut juga memperlihatkan besarnya arti pendidikan bagi keluarga kecil di tengah keterbatasan hidup. Pengamat pendidikan menjelaskan banyak orang tua dari kalangan ekonomi bawah rela bekerja keras demi memastikan anak-anak mereka tetap dapat bersekolah dan memiliki kesempatan hidup yang lebih baik di masa depan. Dalam banyak keluarga, pendidikan masih dipandang sebagai harapan utama untuk memutus rantai kemiskinan dan membuka peluang kehidupan yang lebih layak bagi generasi berikutnya. Karena itu, pengorbanan orang tua demi biaya sekolah sering menjadi gambaran nyata ketahanan keluarga di tengah tekanan ekonomi.
Di sisi lain, persoalan kesejahteraan pekerja informal seperti pemilah sampah juga menjadi perhatian berbagai kalangan. Pengamat kebijakan publik menyebut sektor informal masih menjadi tempat bergantung jutaan masyarakat Indonesia, namun banyak pekerjanya belum memiliki akses memadai terhadap jaminan kesehatan, perlindungan kerja, maupun pendapatan yang stabil. Karena itu, dukungan pemerintah dalam bentuk pelatihan, penguatan ekonomi keluarga, dan pengelolaan sampah berbasis komunitas dinilai penting untuk membantu meningkatkan kesejahteraan kelompok pekerja rentan tersebut.
Kisah ibu di Sumatera Barat yang memilah satu ton sampah plastik demi biaya pendidikan anak kini menjadi gambaran nyata perjuangan masyarakat kecil menghadapi kerasnya kehidupan ekonomi. Banyak pihak menilai cerita tersebut menunjukkan besarnya pengorbanan orang tua demi masa depan keluarga meski harus menjalani pekerjaan yang berat dan penuh risiko. Di tengah tantangan ekonomi yang masih dirasakan banyak masyarakat, akses pendidikan dan perlindungan bagi pekerja sektor informal dinilai tetap menjadi hal penting agar harapan untuk kehidupan yang lebih baik dapat terus terjaga.