Jakarta, 11 September 2026 – Liverpool mengawali perjalanan di Liga Champions 2026-2027 dengan kemenangan dramatis setelah menaklukkan Atletico Madrid 2-1 di Anfield pada Rabu, 9 September 2026 waktu setempat. The Reds harus bekerja keras karena sempat tertinggal lebih dahulu sebelum membalikkan keadaan melalui gol Dominik Szoboszlai dan Alexis Mac Allister. Kemenangan tersebut sekaligus menjadi debut manis Andoni Iraola sebagai pelatih di Liga Champions. Iraola mengakui pendekatan Atletico pada awal pertandingan sempat mengejutkannya karena Diego Simeone menggunakan struktur permainan yang berbeda dari perkiraan. Liverpool kemudian melakukan penyesuaian dan mampu mengambil kendali hingga memastikan tiga poin pertama pada fase liga.
Atletico langsung memperlihatkan ancaman meskipun bermain sebagai tim tamu. Liverpool sebenarnya mendapatkan kesempatan sangat cepat ketika Szoboszlai merebut bola dan mengalirkannya kepada Alexander Isak, tetapi penyelesaian penyerang tersebut masih melebar. Atletico kemudian membalas melalui pergerakan Julian Alvarez yang memaksa Alisson Becker melakukan penyelamatan. Pertukaran serangan tersebut membuat tempo pertandingan meningkat sejak menit-menit awal. Liverpool berusaha menekan tinggi, tetapi Atletico mampu beberapa kali melewati tekanan tersebut dengan kombinasi permainan yang rapi.
Tim tamu akhirnya membuka keunggulan pada menit ke-17 melalui Marcos Llorente. Julian Alvarez menjadi kreator setelah umpannya mampu membongkar pertahanan Liverpool dan menemukan pergerakan Llorente. Pemain asal Spanyol itu memanfaatkan ruang yang muncul di belakang lini pertahanan sebelum menyelesaikan peluang menjadi gol. Gol tersebut kembali menegaskan catatan impresif Llorente ketika bermain menghadapi Liverpool di Anfield. Lima dari 10 golnya di Liga Champions tercipta ketika menghadapi The Reds, menjadikan stadion tersebut sebagai tempat yang sangat produktif baginya.
Keunggulan Atletico membuat Liverpool harus meningkatkan intensitas serangan. Tim asuhan Iraola mencoba mengembangkan permainan melalui Florian Wirtz, Szoboszlai dan Bradley Barcola untuk membuka pertahanan lawan. Atletico mampu bertahan cukup disiplin dalam sebagian besar babak pertama, sementara Jan Oblak beberapa kali harus mengantisipasi peluang tuan rumah. Barcola yang menjalani penampilan starter pertamanya untuk Liverpool mendapatkan kesempatan mencetak gol, tetapi belum mampu menuntaskannya. Tekanan Liverpool secara perlahan semakin kuat ketika pertandingan mendekati waktu turun minum.
Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-40. Ronald Araujo memberikan sentuhan cerdas di dalam kotak penalti yang membuat bola mengarah kepada Szoboszlai. Gelandang asal Hungaria tersebut kemudian menyelesaikan peluang melewati Oblak untuk mengubah kedudukan menjadi 1-1. Gol tersebut menjadi sangat penting karena Liverpool berhasil menghapus keunggulan Atletico sebelum memasuki ruang ganti. Skor imbang juga memberikan kesempatan kepada Iraola untuk melakukan penyesuaian taktik tanpa harus mengejar defisit ketika babak kedua dimulai.
Iraola mengakui dirinya tidak sepenuhnya memperkirakan pendekatan yang digunakan Simeone. Atletico tampil dengan struktur 3-5-2 yang memberikan persoalan berbeda bagi sistem tekanan Liverpool. Bentuk tersebut memungkinkan tim tamu mempunyai opsi tambahan ketika membangun serangan sekaligus memberikan ruang kepada pemain sayap untuk bergerak. Iraola harus mencari solusi setelah melihat rencana awalnya tidak bekerja seefektif yang diharapkan. Perubahan pendekatan Liverpool kemudian terlihat setelah jeda ketika mereka tampil lebih agresif dan mampu menekan Atletico jauh lebih dalam.
Liverpool hampir mendapatkan gol kedua melalui serangan balik cepat pada awal babak kedua. Wirtz membawa bola dengan kecepatan tinggi sebelum bekerja sama dengan Barcola, tetapi penyelesaian pemain Prancis tersebut masih melebar. Kesempatan itu menjadi tanda bahwa Liverpool mulai menemukan ruang lebih besar di pertahanan Atletico. Tuan rumah meningkatkan tekanan dan membuat tim asuhan Simeone semakin sulit keluar dengan nyaman. Beberapa menit kemudian, tekanan tersebut menghasilkan gol yang sepenuhnya membalikkan jalannya pertandingan.
Alexis Mac Allister menjadi pencetak gol kemenangan Liverpool pada menit ke-50. Berawal dari pergerakan Rio Ngumoha di sisi lapangan, bola yang masuk ke area pertahanan Atletico akhirnya jatuh ke arah Mac Allister di luar kotak penalti. Gelandang Argentina tersebut melepaskan tembakan keras kaki kiri dari sekitar 20 meter yang tidak mampu dihentikan Oblak. Liverpool pun berbalik unggul 2-1 hanya lima menit setelah babak kedua dimulai. Gol itu menjadi salah satu momen penting dalam penampilan Mac Allister setelah sebelumnya ikut bekerja keras membantu Liverpool mengendalikan lini tengah.
Setelah tertinggal, Simeone mencoba mengubah jalannya pertandingan melalui pergantian pemain. Atletico memasukkan sejumlah tenaga baru untuk meningkatkan tekanan dan mencari gol penyeimbang. Liverpool pada saat bersamaan juga harus melakukan perubahan setelah Barcola mengalami masalah fisik dan meminta diganti. Iraola memasukkan Jeremie Frimpong serta Victor Munoz untuk memberikan energi baru di sisi lapangan. Ryan Gravenberch kemudian masuk menggantikan Mac Allister untuk membantu menjaga keseimbangan lini tengah.
Atletico tetap mencoba memberikan ancaman melalui Alvarez dan sejumlah pemain yang masuk pada babak kedua. Namun, Liverpool mampu menjaga struktur pertahanan ketika tekanan tim tamu meningkat. Virgil van Dijk dan rekan-rekannya berusaha mempersempit ruang agar Atletico tidak mendapatkan kesempatan bersih di sekitar kotak penalti. Di sisi lain, Liverpool masih berbahaya melalui serangan balik karena Atletico harus menaikkan lebih banyak pemain. Kondisi tersebut membuat pertandingan tetap terbuka hingga menit-menit terakhir.
Secara statistik, Liverpool memang menunjukkan kemampuan menciptakan ancaman lebih besar. The Reds menghasilkan 14 tembakan dengan nilai expected goals sekitar 1,68, sedangkan Atletico membuat sembilan percobaan dengan xG sekitar 0,81. Angka tersebut menggambarkan peningkatan performa Liverpool terutama setelah mereka berhasil menyesuaikan pendekatan permainan. Tim tuan rumah tidak hanya mengejar ketertinggalan, tetapi mampu mengendalikan lebih banyak momen berbahaya setelah perubahan taktik dilakukan. Iraola pun menilai respons para pemain menjadi bagian paling positif dari kemenangan tersebut.
Liverpool sebenarnya sempat kembali memasukkan bola ke gawang Atletico pada fase akhir pertandingan. Frimpong berhasil mencetak gol, tetapi posisinya terlebih dahulu dinyatakan offside sehingga skor tetap 2-1. Atletico kemudian terus mencari kesempatan terakhir untuk menyamakan kedudukan. Pertahanan Liverpool mampu bertahan sampai peluit panjang dibunyikan dan memastikan tiga poin tetap berada di Anfield. Hasil tersebut membuat Iraola memenangkan pertemuan pertamanya melawan Simeone setelah sebelumnya gagal menang dalam empat pertemuan ketika masih menangani Rayo Vallecano di La Liga.
Kemenangan ini menjadi awal penting bagi Liverpool dalam format fase liga Liga Champions. Menghadapi Atletico sejak pertandingan pertama memberikan ujian besar karena tim Spanyol tersebut dikenal mempunyai kemampuan mengubah pendekatan berdasarkan karakter lawan. Liverpool sempat mengalami kesulitan menghadapi struktur yang tidak diperkirakan, tetapi mampu memperbaiki permainan tanpa kehilangan ketenangan. Kemampuan melakukan penyesuaian di tengah pertandingan menjadi salah satu aspek yang paling diapresiasi Iraola. Bagi pelatih asal Spanyol tersebut, kemenangan pada debut Liga Champions juga memberikan kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan Eropa berikutnya.
Hasil 2-1 sekaligus memperpanjang catatan positif Liverpool dalam pertemuan terakhir dengan Atletico Madrid. Setelah hanya memenangkan satu dari enam duel pertama melawan Los Colchoneros di kompetisi Eropa, Liverpool kini memenangkan empat pertemuan terakhir kedua tim. Namun, pertandingan di Anfield menunjukkan Atletico tetap menjadi lawan yang mampu memberikan masalah besar. Iraola mengakui kejutan taktik Simeone membuat Liverpool harus menemukan jawaban selama pertandingan berlangsung. Respons cepat, gol Szoboszlai sebelum turun minum dan tembakan Mac Allister pada awal babak kedua akhirnya menjadi pembeda yang membawa The Reds memulai Liga Champions 2026-2027 dengan kemenangan.