Jakarta, 2 Juni 2026 – Sejumlah perempuan di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, menunjukkan semangat untuk bangkit dari pengalaman kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) setelah mendapatkan pendampingan melalui Program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) yang dijalankan oleh Kementerian Sosial. Program tersebut tidak hanya memberikan bantuan sosial, tetapi juga pendampingan psikologis, pemberdayaan ekonomi, serta dukungan sosial yang membantu para penyintas membangun kembali kepercayaan diri mereka. Bagi banyak perempuan yang pernah mengalami kekerasan, proses untuk kembali menjalani kehidupan secara normal bukanlah hal yang mudah. Trauma, tekanan ekonomi, dan keterbatasan akses terhadap dukungan sering kali menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam waktu yang panjang. Melalui pendekatan yang menyeluruh, Program ATENSI berupaya membantu para penerima manfaat agar mampu keluar dari kondisi rentan dan memperoleh kesempatan untuk menjalani hidup yang lebih mandiri.
Kisah para perempuan di Ende menjadi gambaran bagaimana dukungan yang tepat dapat memberikan perubahan besar dalam kehidupan seseorang. Sebagian dari mereka sebelumnya menghadapi situasi yang sulit akibat kekerasan yang terjadi dalam lingkungan keluarga. Selain mengalami tekanan fisik dan emosional, banyak korban juga harus berjuang menghadapi ketidakpastian ekonomi setelah memutuskan untuk keluar dari situasi yang tidak sehat. Dalam kondisi seperti itu, bantuan yang diberikan tidak hanya berfungsi sebagai dukungan sementara, tetapi juga sebagai langkah awal untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Pendampingan yang dilakukan membantu mereka memahami bahwa masih ada peluang untuk bangkit dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
Program ATENSI sendiri dirancang sebagai salah satu bentuk layanan rehabilitasi sosial yang menyasar kelompok masyarakat yang membutuhkan perlindungan dan pendampingan khusus. Melalui program ini, penerima manfaat memperoleh berbagai layanan yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu. Pendekatan yang digunakan tidak hanya berfokus pada bantuan material, tetapi juga mencakup aspek psikososial yang sangat penting dalam proses pemulihan. Bagi korban KDRT, pemulihan mental dan emosional menjadi salah satu tahap yang sangat menentukan karena pengalaman kekerasan sering kali meninggalkan dampak yang berkepanjangan. Oleh karena itu, layanan konseling dan pendampingan menjadi bagian penting dalam membantu mereka kembali membangun kepercayaan diri.
Selain pemulihan psikologis, pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu komponen utama yang dinilai mampu memperkuat kemandirian para penyintas. Banyak perempuan yang sebelumnya bergantung secara ekonomi kepada pasangan menghadapi kesulitan ketika harus memulai hidup baru. Melalui pelatihan keterampilan dan dukungan usaha produktif, mereka diberikan kesempatan untuk memperoleh sumber penghasilan sendiri. Langkah ini dianggap penting karena kemandirian ekonomi sering kali menjadi faktor yang membantu korban keluar dari lingkaran kekerasan dan ketergantungan. Dengan memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri, mereka dapat mengambil keputusan yang lebih baik bagi masa depan diri sendiri maupun keluarga.
Para pemerhati sosial menilai bahwa penanganan korban KDRT memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Kekerasan dalam rumah tangga bukan hanya persoalan individu, tetapi juga berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, dan budaya yang lebih luas. Oleh karena itu, upaya perlindungan terhadap korban perlu melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga sosial, aparat penegak hukum, hingga masyarakat. Dukungan lingkungan yang positif dapat membantu korban merasa lebih aman dan memiliki ruang untuk memulai kembali kehidupan mereka. Program-program seperti ATENSI dinilai memiliki peran penting dalam menjembatani kebutuhan korban dengan berbagai layanan yang diperlukan selama proses pemulihan.
Di Kabupaten Ende, sejumlah penerima manfaat yang sebelumnya mengalami keterpurukan kini mulai menunjukkan perubahan yang positif. Mereka tidak hanya mampu menjalankan usaha kecil atau aktivitas produktif lainnya, tetapi juga mulai berperan aktif dalam lingkungan sosial di sekitar mereka. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa dukungan yang tepat dapat memberikan dampak yang nyata dalam meningkatkan kualitas hidup seseorang. Banyak dari mereka yang kini memiliki harapan baru dan mampu melihat masa depan dengan lebih optimistis dibandingkan ketika pertama kali menerima pendampingan. Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa proses pemulihan dapat berjalan dengan baik apabila didukung oleh program yang tepat sasaran dan berkelanjutan.
Kementerian Sosial menegaskan bahwa pemberdayaan kelompok rentan akan terus menjadi bagian penting dari berbagai program perlindungan sosial yang dijalankan pemerintah. Perempuan yang menjadi korban kekerasan termasuk kelompok yang memerlukan perhatian khusus karena sering menghadapi berbagai hambatan dalam proses pemulihan. Melalui penguatan layanan rehabilitasi sosial, pemerintah berharap semakin banyak penyintas yang mampu bangkit dan membangun kehidupan yang lebih baik. Pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada bantuan sesaat, tetapi juga pada pemberdayaan jangka panjang, dianggap sebagai langkah penting untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
Kisah para ibu di Ende yang berhasil bangkit dari pengalaman KDRT melalui Program ATENSI menjadi inspirasi tentang pentingnya dukungan sosial dalam menghadapi masa sulit. Dengan bantuan yang mencakup aspek psikologis, sosial, dan ekonomi, para penyintas memperoleh kesempatan untuk memulai kembali hidup mereka dengan lebih percaya diri. Perjalanan menuju pemulihan memang tidak selalu mudah, namun pengalaman mereka menunjukkan bahwa harapan dan perubahan tetap dapat terwujud ketika ada dukungan yang memadai. Keberhasilan ini juga menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap korban kekerasan harus terus diperkuat agar semakin banyak individu yang dapat keluar dari situasi rentan dan menjalani kehidupan yang lebih aman, mandiri, dan bermartabat.