Teheran, 20 Agustus 2026 – Iran dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi untuk menyerang aset militer Amerika Serikat di Eropa apabila Presiden Donald Trump memutuskan memperluas operasi militer terhadap Tehran. Rencana tersebut disebut menjadi salah satu opsi respons yang sedang dikaji di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Sasaran yang dipertimbangkan berada di kawasan Eropa bagian tenggara, termasuk fasilitas yang digunakan atau mendukung aktivitas militer Amerika Serikat. Langkah tersebut akan menandai perluasan signifikan dari konflik yang selama ini terutama berpusat di Timur Tengah. Jika benar-benar dilaksanakan, serangan terhadap aset Amerika Serikat di Eropa berpotensi membawa negara-negara sekutu Washington ke dalam situasi keamanan yang jauh lebih rumit.
Sejumlah pihak yang mengetahui pembahasan internal di Iran menyebut opsi tersebut muncul sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan serangan baru Amerika Serikat. Tehran disebut ingin memberikan pesan bahwa eskalasi terhadap wilayah Iran dapat memicu respons yang tidak terbatas pada kawasan Timur Tengah. Pertimbangan tersebut muncul setelah ancaman Trump terhadap infrastruktur Iran kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai kemungkinan berlanjutnya operasi militer. Iran menilai setiap serangan terhadap wilayah atau fasilitas strategisnya dapat memicu tindakan balasan dengan sasaran yang lebih luas. Karena itu, fasilitas militer Amerika Serikat di luar kawasan Timur Tengah mulai masuk dalam perhitungan strategis Iran.
Salah satu wilayah yang disebut menjadi perhatian adalah Bulgaria. Negara tersebut memiliki fasilitas militer yang dinilai semakin penting bagi aktivitas Amerika Serikat setelah pemerintah Bulgaria memberikan izin penggunaan pangkalan udara Bezmer untuk pesawat pengisian bahan bakar milik Amerika Serikat. Kehadiran aset tersebut membuat fasilitas di Bulgaria memiliki nilai strategis dalam mendukung operasi militer. Bagi Iran, fasilitas yang memberikan dukungan kepada operasi Amerika Serikat dapat dipandang sebagai bagian dari jaringan militer yang lebih luas. Namun, hingga kini belum ada kepastian bahwa Iran telah mengambil keputusan untuk melakukan serangan terhadap fasilitas tersebut.
Siprus juga disebut masuk dalam pertimbangan karena terdapat fasilitas militer Inggris yang dapat digunakan untuk mendukung operasi Amerika Serikat. Posisi geografis Siprus membuat pulau tersebut memiliki nilai strategis dalam operasi militer di kawasan Timur Tengah dan Mediterania. Keberadaan fasilitas militer asing di wilayah tersebut membuat perkembangan konflik Iran-Amerika Serikat berpotensi memberikan dampak langsung terhadap keamanan negara-negara Eropa. Jika fasilitas yang berada di Siprus menjadi sasaran, konsekuensinya dapat melibatkan Inggris dan negara-negara Eropa lainnya dalam situasi yang semakin sulit dikendalikan.
Ancaman perluasan konflik tersebut mendapatkan perhatian serius dari NATO. Aliansi pertahanan tersebut menyatakan siap menghadapi ancaman yang berasal dari Iran apabila berkembang hingga wilayah Eropa. NATO menegaskan bahwa setiap ancaman terhadap negara anggota akan menjadi persoalan yang harus ditangani bersama. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kemungkinan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di Eropa tidak hanya akan dilihat sebagai persoalan antara Tehran dan Washington. Apabila fasilitas berada di wilayah negara anggota NATO atau serangan menimbulkan korban terhadap personel negara anggota, tekanan terhadap aliansi untuk memberikan respons dapat meningkat.
Bagi Amerika Serikat, keberadaan fasilitas militer di Eropa memiliki fungsi penting dalam mendukung mobilitas pasukan dan operasi di berbagai kawasan. Pangkalan udara, fasilitas logistik, serta lokasi pengisian bahan bakar memungkinkan Washington menggerakkan aset militernya dengan lebih cepat dan mempertahankan kemampuan operasional dalam jarak jauh. Karena itu, ancaman terhadap fasilitas tersebut dapat menjadi salah satu cara Iran untuk meningkatkan biaya strategis apabila Amerika Serikat memperluas serangannya. Namun, serangan terhadap fasilitas di Eropa juga membawa risiko besar bagi Iran karena dapat memperluas jumlah negara yang merasa terancam secara langsung.
Perkembangan tersebut terjadi ketika hubungan Iran dan Amerika Serikat kembali berada dalam kondisi sangat tegang. Pemerintahan Trump masih memberikan tekanan terhadap Tehran, termasuk melalui langkah ekonomi dan ancaman terhadap kemampuan Iran. Di sisi lain, Iran menolak tekanan yang dianggap bertujuan memaksa negara tersebut menyerah terhadap tuntutan Amerika Serikat. Jalur diplomasi juga belum memberikan hasil yang mampu menghilangkan risiko konflik baru. Kondisi tersebut membuat kedua pihak tetap menyiapkan berbagai kemungkinan apabila ketegangan berubah menjadi konfrontasi terbuka.
Iran juga dilaporkan mempertimbangkan sasaran lain apabila konflik semakin meluas. Infrastruktur penting yang berada di luar kawasan Timur Tengah disebut dapat menjadi bagian dari perhitungan strategis Tehran. Namun, setiap pilihan tersebut memiliki konsekuensi berbeda dan tidak mudah dilakukan. Iran harus mempertimbangkan kemampuan senjata yang dimiliki, jarak sasaran, kemungkinan respons Amerika Serikat, serta risiko keterlibatan negara ketiga. Karena itu, adanya pembahasan mengenai suatu sasaran tidak otomatis berarti keputusan untuk menyerangnya telah dibuat.
Ancaman terhadap fasilitas militer di Eropa juga dapat memberikan tekanan politik kepada negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan Amerika Serikat. Negara seperti Bulgaria dan negara Eropa lainnya harus mempertimbangkan hubungan pertahanan dengan Washington sekaligus risiko apabila fasilitas mereka digunakan dalam operasi terhadap Iran. Situasi tersebut dapat menimbulkan perdebatan mengenai sejauh mana fasilitas nasional boleh digunakan untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat. Semakin besar risiko serangan balasan, semakin sulit pula bagi negara-negara tersebut menjaga posisi mereka di tengah konflik. Persoalan ini dapat menjadi tantangan baru bagi solidaritas keamanan Eropa.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga harus mempertimbangkan konsekuensi jika memperluas operasi militernya terhadap Iran. Serangan yang lebih besar mungkin dapat meningkatkan tekanan terhadap Tehran, tetapi juga membuka kemungkinan respons terhadap aset Amerika Serikat di luar kawasan. Hal tersebut dapat memperbesar biaya keamanan dan memaksa Washington memperkuat perlindungan terhadap fasilitas militernya di berbagai negara. Sekutu Amerika Serikat pun dapat meminta jaminan keamanan tambahan apabila wilayah mereka mulai dianggap sebagai sasaran potensial. Dengan demikian, setiap langkah eskalasi dapat menghasilkan rangkaian respons yang semakin sulit dihentikan.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik Iran dan Amerika Serikat berpotensi memasuki fase yang lebih luas apabila ancaman serangan baru benar-benar diwujudkan. Pertimbangan Iran untuk menyasar aset militer Amerika Serikat di Eropa disebut masih berada dalam tahap opsi dan belum menjadi keputusan final. Namun, munculnya kemungkinan tersebut sudah cukup untuk meningkatkan kewaspadaan negara-negara Eropa dan NATO. Amerika Serikat kini menghadapi pilihan sulit antara mempertahankan tekanan terhadap Iran atau mengambil langkah yang berisiko memperluas medan konflik. Sementara itu, Iran berusaha menunjukkan bahwa serangan terhadap wilayahnya dapat memicu respons jauh di luar Timur Tengah. Jika tidak ada terobosan diplomatik, risiko konflik meluas hingga Eropa akan menjadi salah satu persoalan keamanan yang semakin serius.