Halmahera Barat, 6 September 2026 – Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, kembali mengalami erupsi pada Minggu pukul 14.26 WIT. Erupsi tersebut menghasilkan kolom abu yang teramati mencapai sekitar 600 meter di atas puncak atau berada pada ketinggian kurang lebih 1.925 meter di atas permukaan laut. Kolom abu terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal. Material vulkanik tersebut terpantau bergerak ke arah utara dan timur laut mengikuti kondisi angin di sekitar gunung. Saat laporan pengamatan disampaikan, aktivitas erupsi masih berlangsung sehingga perkembangan Gunung Ibu terus mendapatkan pemantauan. Masyarakat di sekitar gunung diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan.
Erupsi pada sore hari itu merupakan bagian dari rangkaian aktivitas Gunung Ibu yang tercatat sepanjang Minggu. Beberapa jam sebelumnya, tepatnya sekitar pukul 10.04 WIT, gunung tersebut juga mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu sekitar 600 meter di atas puncak. Kolom abu pada kejadian sebelumnya terlihat putih hingga kelabu dengan intensitas sedang sampai tebal dan bergerak ke arah utara. Aktivitas vulkanik tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 28 milimeter dan durasi sekitar 44 detik. Erupsi dilaporkan masih berlangsung ketika pengamatan awal disampaikan, memperlihatkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Ibu masih cukup dinamis. Kondisi itu menjadi alasan masyarakat diminta tidak menganggap situasi telah aman hanya karena kolom abu sesaat tidak terlihat dari permukiman.
Selain erupsi pada pukul 10.04 WIT dan 14.26 WIT, aktivitas Gunung Ibu sebenarnya sudah terpantau sejak Minggu dini hari. Sekitar pukul 04.55 WIT, erupsi menghasilkan kolom abu kurang lebih 400 meter di atas puncak atau mencapai sekitar 1.725 meter di atas permukaan laut. Pada kejadian tersebut, kolom abu terlihat berwarna kelabu dengan intensitas sedang dan bergerak ke arah timur laut. Aktivitasnya terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 15 milimeter dan berlangsung selama sekitar 35 detik. Perbedaan tinggi kolom, arah pergerakan abu, serta karakter kegempaan pada setiap kejadian menjadi bagian penting dalam evaluasi aktivitas gunung. Serangkaian erupsi dalam satu hari tersebut membuat pemantauan secara berkelanjutan diperlukan untuk mengetahui perubahan aktivitas berikutnya.
Masyarakat yang bermukim di sekitar Gunung Ibu serta pengunjung dan wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas di dalam radius dua kilometer dari kawah aktif. Pembatasan juga diperluas secara sektoral hingga 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah di bagian utara. Zona tersebut harus dipatuhi karena kawasan yang berdekatan dengan kawah memiliki risiko lebih besar terhadap lontaran material maupun dampak langsung aktivitas erupsi. Warga tidak disarankan memasuki kawasan terlarang meskipun kondisi gunung secara visual terlihat tenang pada waktu tertentu. Aktivitas vulkanik dapat mengalami perubahan dalam waktu relatif singkat sehingga pengamatan kasatmata saja tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan keamanan suatu lokasi. Kepatuhan terhadap radius bahaya menjadi salah satu langkah utama untuk menekan risiko terhadap masyarakat.
Potensi hujan abu juga menjadi perhatian bagi warga yang tinggal di wilayah sekitar Gunung Ibu. Apabila material abu mencapai permukiman, masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker untuk melindungi hidung dan mulut. Kacamata pelindung juga dapat digunakan untuk mengurangi paparan partikel abu pada mata, terutama ketika angin membawa material vulkanik menuju kawasan tempat tinggal. Arah sebaran abu dapat berubah mengikuti kecepatan dan arah angin sehingga wilayah yang terdampak pada satu kejadian belum tentu sama dengan erupsi berikutnya. Masyarakat karena itu perlu mengikuti perkembangan kondisi dari waktu ke waktu dan tidak hanya berpatokan pada arah abu yang terlihat pada satu laporan erupsi. Kesiapan perlindungan sederhana menjadi penting selama aktivitas Gunung Ibu masih menunjukkan erupsi berulang.
Pemantauan aktivitas Gunung Ibu dilakukan melalui kombinasi pengamatan visual dan instrumen kegempaan. Tinggi serta warna kolom abu memberikan gambaran mengenai kondisi erupsi di permukaan, sementara seismograf digunakan untuk mencatat getaran yang menyertai aktivitas vulkanik. Data mengenai amplitudo dan durasi erupsi kemudian menjadi bagian dari informasi yang digunakan untuk mengikuti perkembangan gunung. Pengamatan tersebut perlu dilakukan terus-menerus karena karakter erupsi dapat berbeda dalam rentang waktu beberapa jam. Pada Minggu saja, tinggi kolom yang teramati berubah dari sekitar 400 meter pada dini hari menjadi sekitar 600 meter pada kejadian berikutnya. Informasi yang diperoleh dari setiap kejadian selanjutnya menjadi dasar untuk mempertahankan atau menyesuaikan rekomendasi keselamatan apabila terdapat perubahan signifikan.
Gunung Ibu juga bukan satu-satunya gunung api Indonesia yang menunjukkan aktivitas erupsi pada Minggu. Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur turut mencatat aktivitas erupsi pada hari yang sama, sementara Gunung Semeru di Jawa Timur juga berada dalam rangkaian pemantauan aktivitas vulkanik. Masing-masing gunung mempunyai karakter, sumber magma, kondisi geologi, dan rekomendasi keselamatan yang berbeda sehingga kejadian dalam waktu berdekatan tidak dapat langsung dianggap saling berkaitan. Masyarakat di setiap wilayah perlu mengikuti ketentuan yang secara khusus berlaku bagi gunung api di daerah masing-masing. Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan di Indonesia yang memiliki banyak gunung api aktif. Pemantauan berkelanjutan menjadi bagian penting untuk memberikan peringatan ketika terjadi perubahan aktivitas yang dapat meningkatkan potensi bahaya.
Bagi masyarakat Halmahera Barat, perhatian utama tetap diarahkan pada perkembangan Gunung Ibu dan kemungkinan sebaran abu ke kawasan permukiman. Warga diharapkan menjaga ketenangan sekaligus tidak mengabaikan tanda-tanda perubahan kondisi di lingkungan sekitar. Informasi yang tidak dapat dipastikan kebenarannya sebaiknya tidak diteruskan karena dapat menimbulkan kebingungan maupun kepanikan di tengah masyarakat. Pemerintah daerah juga diminta terus berkoordinasi dengan petugas pengamatan gunung untuk memperoleh perkembangan aktivitas secara cepat. Langkah tersebut diperlukan agar rekomendasi keselamatan dapat segera diteruskan kepada masyarakat apabila kondisi mengalami perubahan. Kesiapsiagaan yang konsisten dinilai lebih penting daripada menunggu aktivitas meningkat sebelum mengambil langkah perlindungan.
Aktivitas berulang yang terjadi sejak dini hari hingga sore memperlihatkan bahwa kondisi Gunung Ibu masih perlu diperhatikan secara serius. Kendati tinggi kolom abu yang teramati pada erupsi pukul 14.26 WIT sekitar 600 meter, besarnya ancaman tidak dapat dinilai hanya berdasarkan tinggi kolom tersebut. Jarak dari kawah, arah angin, intensitas material yang dikeluarkan, serta perkembangan kegempaan juga menjadi faktor penting dalam menentukan potensi dampak. Oleh sebab itu, warga diminta tetap berada di luar zona pembatasan yang sudah ditetapkan dan mengikuti setiap pembaruan mengenai aktivitas gunung. Pengunjung maupun wisatawan juga perlu menyesuaikan kegiatan agar tidak memasuki wilayah yang berpotensi terkena dampak langsung erupsi. Selama aktivitas masih dinamis, pendekatan paling aman adalah mempertahankan kewaspadaan dan mengikuti rekomendasi petugas.
Erupsi pukul 14.26 WIT akhirnya menambah catatan aktivitas Gunung Ibu sepanjang 6 September 2026 setelah sejumlah letusan sebelumnya terjadi pada hari yang sama. Kolom abu sekitar 600 meter yang bergerak ke utara dan timur laut menjadi perkembangan terbaru yang teramati pada sore hari. Pemantauan akan terus dilakukan untuk melihat apakah aktivitas vulkanik bertahan, meningkat, atau berangsur mengalami penurunan. Masyarakat tetap diminta tidak memasuki radius dua kilometer dari kawah aktif serta perluasan sektoral 3,5 kilometer menuju bukaan kawah bagian utara. Masker dan pelindung mata perlu disiapkan apabila abu vulkanik mulai mencapai lingkungan tempat tinggal. Selama Gunung Ibu masih menunjukkan aktivitas erupsi, kepatuhan terhadap zona aman dan informasi perkembangan terbaru menjadi bagian terpenting dalam mengurangi risiko bagi masyarakat sekitar.