Jakarta, 5 September 2026 – Pemerintah Malaysia menetapkan status darurat kabut asap di Divisi Serian, Sarawak, setelah kualitas udara memburuk hingga mencapai tingkat yang membahayakan kesehatan dan keselamatan masyarakat. Keputusan tersebut diambil setelah Indeks Pencemaran Udara atau API di Serian menembus angka di atas 500 pada Jumat, 4 September 2026, yang merupakan ambang untuk pemberlakuan keadaan darurat berdasarkan mekanisme penanganan kabut asap Malaysia. Kondisi udara di Sarawak memburuk di tengah meningkatnya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Kalimantan yang berada di bagian lain Pulau Borneo. Asap dari kebakaran tersebut terbawa melintasi perbatasan dan menyebabkan kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia Timur turun drastis. Serian menjadi daerah dengan kondisi paling serius sehingga pemerintah mengambil langkah khusus untuk membatasi paparan masyarakat terhadap udara tercemar. Status darurat diharapkan memberikan ruang lebih luas bagi pemerintah untuk menjalankan berbagai tindakan perlindungan dan mitigasi.
Penetapan status darurat mendapat persetujuan Raja Malaysia Sultan Ibrahim setelah mempertimbangkan saran Perdana Menteri Anwar Ibrahim, Premier Sarawak Abang Johari Openg, serta lembaga terkait. Pemerintah Malaysia menyatakan keputusan tersebut diperlukan setelah kondisi kabut asap mencapai tingkat yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat. Data pemantauan pada Jumat menunjukkan API Serian sempat berada di kisaran 514 hingga lebih dari 519, setelah sebelumnya menembus angka 500 sejak pagi hari. Dalam sistem pengukuran Malaysia, angka di atas 300 sudah dikategorikan berbahaya, sementara angka 500 menjadi ambang yang memungkinkan pemberlakuan keadaan darurat kabut asap. Pemerintah memastikan perkembangan kualitas udara akan terus dipantau untuk menentukan langkah selanjutnya. Status darurat dapat dicabut setelah kondisi udara menunjukkan perbaikan dan API kembali berada di bawah ambang yang ditetapkan.
Ketua Komite Penanggulangan Bencana Sarawak Douglas Uggah Embas menjelaskan keadaan darurat tersebut secara khusus diberlakukan di Serian dan bukan merupakan kebijakan penguncian wilayah. Tujuan utamanya adalah mengurangi aktivitas masyarakat di luar ruangan agar paparan terhadap polutan dapat ditekan. Aktivitas kantor pemerintah dan sektor swasta yang tidak termasuk layanan penting dapat dihentikan selama kondisi darurat berlangsung. Sementara itu, layanan penting seperti keamanan, perbankan, supermarket, stasiun pengisian bahan bakar, dan kebutuhan dasar masyarakat tetap dapat beroperasi. Warga diminta sebisa mungkin berada di dalam ruangan dan mengurangi kegiatan yang membutuhkan aktivitas fisik berat di luar rumah. Pemerintah Sarawak juga mengingatkan masyarakat dengan penyakit pernapasan, anak-anak, dan kelompok lanjut usia agar memberikan perhatian lebih terhadap kondisi kesehatan mereka.
Dampak kabut asap juga menyebabkan kegiatan pendidikan di Sarawak mengalami gangguan cukup luas. Sebanyak 647 sekolah dijadwalkan ditutup sementara pada 7 hingga 11 September 2026 karena kondisi udara yang belum stabil. Jumlah tersebut terdiri atas 563 sekolah dasar dan 84 sekolah menengah di sejumlah distrik, termasuk Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu, Kanowit, Julau, dan Meradong. Penutupan tersebut berdampak terhadap hampir 200 ribu siswa yang untuk sementara akan menjalani pembelajaran dari rumah. Kebijakan itu dilakukan untuk mengurangi risiko kesehatan akibat paparan udara tercemar selama perjalanan maupun aktivitas di lingkungan sekolah. Pemerintah daerah akan terus mengevaluasi kondisi sebelum menentukan apakah kegiatan belajar tatap muka dapat kembali dilakukan setelah periode penutupan berakhir.
Bukan hanya Serian yang mengalami penurunan kualitas udara akibat kabut asap. Kuching juga mencatat API lebih dari 300 sehingga masuk kategori berbahaya, sedangkan Samarahan dan Sri Aman berada pada kategori sangat tidak sehat. Kabut pekat mengurangi jarak pandang dan membuat masyarakat di sejumlah wilayah Sarawak semakin membatasi kegiatan di luar rumah. Permintaan masker meningkat karena warga berusaha melindungi diri dari paparan partikel yang terkandung dalam kabut asap. Sejumlah masyarakat juga dilaporkan mencari penanganan kesehatan setelah mengalami keluhan pernapasan, iritasi mata, maupun gangguan lain yang berkaitan dengan kualitas udara buruk. Pemerintah meminta masyarakat terus memantau perkembangan API sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Kondisi tersebut menjadi salah satu episode kabut asap terburuk yang dialami Sarawak dalam beberapa tahun terakhir.
Pemerintah Sarawak juga menjalankan operasi penyemaian awan sebagai salah satu langkah untuk mengurangi konsentrasi polutan di udara. Operasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan hujan yang membantu membersihkan partikel asap sekaligus meningkatkan cadangan air menjelang periode cuaca panas dan kering. Pelaksanaannya sangat bergantung pada kondisi awan dan atmosfer sehingga hasilnya tidak dapat dipastikan pada setiap penerbangan. Operasi direncanakan terus dilakukan selama kondisi memungkinkan dan kebutuhan penanganan kabut asap masih tinggi. Pada saat bersamaan, koordinasi dengan pemerintah federal Malaysia diperkuat untuk memastikan kebutuhan logistik, kesehatan, dan penanganan bencana dapat dipenuhi. Pemerintah Malaysia juga terus memantau arah pergerakan asap karena perubahan angin dapat menyebabkan kualitas udara memburuk atau membaik dalam waktu relatif cepat.
Krisis kabut asap tahun ini terjadi ketika kebakaran hutan dan lahan di Indonesia meningkat selama musim kemarau. Kebakaran dalam beberapa pekan terakhir terutama terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatra, dengan lahan gambut menjadi salah satu area yang paling sulit ditangani karena api dapat menjalar hingga ke bawah permukaan. Kondisi kering yang berlangsung cukup lama membuat vegetasi semakin mudah terbakar dan memperbesar kemungkinan munculnya titik api baru. Pemerintah Indonesia telah mengerahkan personel pemadam, melakukan operasi modifikasi cuaca, serta meningkatkan patroli dan penegakan hukum. Data pemerintah menunjukkan ratusan titik panas telah terdeteksi sejak awal Agustus, sementara aparat juga menangani berbagai kasus dugaan pembakaran lahan. Upaya pemadaman terus dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas sekaligus mengurangi asap yang menyebar hingga melintasi batas negara.
Aparat Indonesia juga meningkatkan penindakan terhadap dugaan pembakaran hutan dan lahan secara sengaja. Kepolisian telah menetapkan lebih dari seratus orang sebagai tersangka dalam rangkaian kasus karhutla di sejumlah provinsi di Sumatra dan Kalimantan. Pemerintah turut mengambil tindakan terhadap perusahaan yang wilayah konsesinya ditemukan mengalami kebakaran, termasuk melalui penghentian maupun evaluasi perizinan. Penegakan hukum dilakukan bersamaan dengan operasi pemadaman karena sebagian kebakaran diduga berkaitan dengan pembukaan lahan menggunakan api. Pemerintah menegaskan praktik tersebut tidak dapat dibenarkan karena dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar lokasi kebakaran, tetapi dapat meluas hingga negara tetangga. Situasi di Sarawak menunjukkan besarnya dampak lintas batas yang dapat muncul ketika kebakaran berlangsung dalam skala luas dan kondisi angin membawa asap menuju wilayah lain.
Kabut asap dari kebakaran Indonesia tahun ini tidak hanya berdampak terhadap Malaysia. Sejumlah wilayah Brunei dan Filipina juga menghadapi penurunan kualitas udara, sementara pemerintah setempat mengambil langkah untuk mengurangi paparan masyarakat. Kondisi tersebut kembali memperlihatkan bahwa persoalan karhutla di Asia Tenggara membutuhkan kerja sama lintas negara karena asap tidak mengenal batas administratif. Negara-negara kawasan memiliki mekanisme kerja sama untuk memantau titik panas, berbagi informasi meteorologi, dan melakukan koordinasi penanganan pencemaran asap lintas batas. Namun, pencegahan kebakaran di sumbernya tetap menjadi langkah paling penting agar krisis serupa tidak terus berulang. Pengelolaan lahan gambut, pengawasan kawasan rawan kebakaran, serta penegakan hukum menjadi bagian yang menentukan keberhasilan upaya tersebut.
Status darurat di Serian menjadi gambaran seriusnya dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap kawasan Asia Tenggara pada musim kemarau tahun ini. Pemerintah Malaysia akan mempertahankan langkah perlindungan selama kualitas udara masih berada pada tingkat yang membahayakan kesehatan masyarakat. Sementara itu, Indonesia terus berupaya mengendalikan titik api melalui pemadaman darat, operasi udara, modifikasi cuaca, dan penegakan hukum terhadap dugaan pembakaran. Perkembangan cuaca dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi faktor penting karena musim kering masih berpotensi mempertahankan risiko kebakaran di sejumlah wilayah. Kerja sama antara Indonesia dan negara-negara tetangga juga diperlukan untuk memantau penyebaran asap serta mengurangi dampaknya terhadap masyarakat. Perbaikan kualitas udara di Sarawak pada akhirnya sangat bergantung pada berkurangnya sumber asap sekaligus perubahan kondisi cuaca yang dapat membantu proses pemadaman dan pembersihan atmosfer.