Jakarta, 19 September 2026 – Nama Alice Walton kembali mendapat perhatian setelah kekayaannya mencapai sekitar 118 miliar dolar AS dalam daftar Forbes 400 tahun 2026. Putri tunggal pendiri Walmart, Sam Walton, tersebut tercatat sebagai perempuan terkaya di Amerika Serikat sekaligus satu-satunya perempuan Amerika dengan kekayaan di atas 100 miliar dolar AS. Kekayaan Walton bertambah sekitar 12 miliar dolar AS dibandingkan tahun sebelumnya seiring kenaikan harga saham Walmart. Berbeda dengan kedua saudara laki-lakinya, Rob dan Jim Walton, Alice tidak menghabiskan sebagian besar perjalanan kariernya dalam pengelolaan bisnis ritel keluarga. Ia justru dikenal luas karena ketertarikannya terhadap seni dan kegiatan filantropi. Minat tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu proyek seni paling besar yang pernah dibangun oleh keluarga Walton.
Alice Louise Walton lahir pada 7 Oktober 1949 dan merupakan anak Sam Walton serta Helen Walton. Ia tumbuh bersama saudara-saudaranya dalam keluarga yang kemudian membangun Walmart menjadi salah satu perusahaan ritel terbesar di dunia. Alice menyelesaikan pendidikan administrasi bisnis di Trinity University, Texas, pada 1971. Setelah lulus, ia sempat bekerja di Walmart sebagai pembeli pakaian anak-anak sebelum menempuh jalur karier yang berbeda. Alice kemudian bekerja di bidang keuangan dan investasi, tetapi pada akhirnya perhatian terbesarnya beralih kepada seni. Sebagian besar kekayaannya tetap berasal dari kepemilikan keluarga Walton atas saham Walmart yang nilainya berkembang selama beberapa dekade.
Ketertarikan Alice terhadap seni sebenarnya sudah muncul sejak dirinya masih kecil. Ia mengenal cat air ketika kerap melukis bersama ibunya dalam perjalanan keluarga maupun ketika berjalan-jalan di kawasan Ozarks. Saat dewasa, Alice mulai mengoleksi karya cat air dan secara bertahap memperluas perhatiannya kepada sejarah serta berbagai jenis seni Amerika. Aktivitas mengoleksi tersebut akhirnya tidak hanya menjadi kegemaran pribadi. Alice mulai membangun visi agar karya-karya penting dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Koleksi yang dikumpulkannya kemudian menjadi fondasi awal Crystal Bridges Museum of American Art di Bentonville, Arkansas. Alice mendirikan lembaga nirlaba tersebut pada 2005 dan museum akhirnya dibuka untuk publik pada 11 November 2011.
Crystal Bridges menyimpan karya seni Amerika yang membentang selama sekitar lima abad, mulai dari periode awal Amerika hingga karya kontemporer. Koleksinya mencakup karya sejumlah nama besar seperti Norman Rockwell, Georgia O’Keeffe, Mark Rothko dan Andy Warhol. Salah satu karya terkenal yang berada dalam koleksi museum adalah lukisan Rosie the Riveter karya Norman Rockwell. Koleksi tersebut juga mencakup Radiator Building—Night, New York karya Georgia O’Keeffe serta potret George Washington tahun 1797 karya Gilbert Stuart. Museum dibangun di kawasan alam Bentonville dan dirancang oleh arsitek terkenal Moshe Safdie. Alice menyumbangkan koleksi seninya sebagai dasar pembentukan koleksi Crystal Bridges, sementara keluarga Walton menyediakan lahan sekitar 120 acre untuk pembangunan museum tersebut.
Nilai individual seluruh karya yang pernah dikumpulkan Alice tidak diumumkan secara lengkap kepada publik sehingga tidak ada angka resmi tunggal yang dapat digunakan untuk menentukan nilai keseluruhan koleksinya. Namun, reputasi karya dan seniman yang masuk dalam koleksi Crystal Bridges menunjukkan skala investasi seni yang sangat besar. Museum tersebut kini memiliki ribuan karya dan terus memperluas koleksinya melalui pembelian maupun sumbangan dari berbagai kolektor. Basis data Crystal Bridges mencatat lebih dari 3.500 karya dalam keseluruhan koleksinya. Koleksi permanennya juga terus dikembangkan untuk memberikan gambaran luas mengenai perkembangan seni Amerika. Karena itu, kekayaan seni yang berkaitan dengan proyek Alice Walton tidak hanya dilihat berdasarkan harga setiap karya, tetapi juga dari cakupan sejarah dan pengaruh institusi yang dibangunnya.
Ambisi Alice terhadap seni tidak berhenti pada pembangunan sebuah museum. Pada 2017, ia mendirikan Art Bridges Foundation untuk memperluas akses terhadap seni Amerika di berbagai wilayah Amerika Serikat. Organisasi tersebut bekerja sama dengan museum lain, termasuk lembaga di kota kecil dan daerah yang memiliki akses lebih terbatas terhadap koleksi seni besar. Forbes mencatat Alice telah menghabiskan lebih dari 500 juta dolar AS melalui Art Bridges untuk memperoleh serta meminjamkan karya seni kepada lebih dari 400 museum di seluruh Amerika Serikat. Program tersebut memungkinkan karya yang biasanya tersimpan dalam koleksi tertentu dipamerkan kepada masyarakat di wilayah lain. Alice juga mendirikan Alice L. Walton Foundation yang bergerak dalam bidang seni, pendidikan, kesehatan dan peluang ekonomi.
Crystal Bridges sendiri terus mengalami perkembangan besar setelah lebih dari satu dekade beroperasi. Pada Juni 2026, museum membuka perluasan seluas sekitar 114.000 kaki persegi yang menambah ukuran fasilitas sekitar 50 persen. Perluasan tersebut menghadirkan galeri baru, ruang studio, area pameran temporer yang lebih besar dan berbagai fasilitas untuk kegiatan publik. Kawasan museum sekarang berada di lingkungan seluas sekitar 134 acre yang memadukan seni, arsitektur dan lanskap alam Ozarks. Sejak dibuka pada 2011, Crystal Bridges telah menerima lebih dari 15 juta kunjungan di berbagai ruangnya. Museum mempertahankan kebijakan tiket masuk umum gratis sebagai bagian dari gagasan memperluas akses masyarakat terhadap seni.
Dalam beberapa tahun terakhir, Alice juga memperluas kegiatan filantropinya ke bidang kesehatan. Ia mendukung pembentukan Alice L. Walton School of Medicine di Bentonville yang menerima angkatan pertama berisi 48 mahasiswa program kedokteran empat tahun pada 2025. Forbes mencatat Alice telah menyumbangkan sedikitnya 250 juta dolar AS untuk sekolah tersebut. Fokus tersebut berhubungan dengan ketertarikannya terhadap pendekatan kesehatan yang menggabungkan aspek medis dengan pemahaman mengenai lingkungan dan kesejahteraan. Secara keseluruhan, Forbes memperkirakan Alice telah menyalurkan lebih dari 6 miliar dolar AS ke lima yayasan amal keluarga. Dari jumlah tersebut, yayasan-yayasan terkait telah menyalurkan lebih dari sekitar 2 miliar dolar AS dana Alice hingga 2024 berdasarkan laporan pajak terbaru yang tersedia ketika perhitungan dilakukan.
Perjalanan Alice Walton memperlihatkan bagaimana salah satu kekayaan keluarga terbesar di dunia berkembang menjadi berbagai proyek seni, pendidikan dan kesehatan. Pada usia 76 tahun, sumber kekayaannya tetap sangat terkait dengan kepemilikan keluarga atas Walmart, sementara aktivitas pribadinya lebih banyak dikenal melalui filantropi dan seni dibandingkan pengelolaan perusahaan ritel tersebut. Forbes menaksir kekayaannya sekitar 118 miliar dolar AS dalam Forbes 400 2026 dan menempatkannya sebagai perempuan terkaya di Amerika Serikat. Crystal Bridges menjadi salah satu warisan paling menonjol dari minatnya terhadap seni, dengan koleksi yang berkembang dari karya-karya yang awalnya dikumpulkan Alice secara pribadi. Dari kegemaran melukis cat air bersama ibunya ketika kecil hingga mendirikan museum besar dengan koleksi seni Amerika lintas lima abad, seni menjadi bagian penting dari perjalanan hidup salah satu pewaris keluarga Walton tersebut.