Jakarta, 7 September 2026 – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjalankan sejumlah langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang telah mencapai sebagian wilayah Ibu Kota. Tiga langkah utama yang dilakukan mencakup pengoperasian water mist secara luas, penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), serta peningkatan pemantauan kualitas udara dan perlindungan kesehatan masyarakat. Kebijakan tersebut dijalankan setelah pemerintah daerah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Sekretaris Daerah DKI Jakarta Uus Kuswanto mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan pergerakan abu yang dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer. Warga diminta tetap tenang tetapi meningkatkan kewaspadaan selama abu masih terdeteksi. Pemerintah juga memastikan layanan kedaruratan dan fasilitas kesehatan tetap disiagakan apabila masyarakat membutuhkan pertolongan.
Langkah pertama yang dilakukan adalah mengoperasikan water mist atau penyemprotan air untuk membantu mengendalikan partikel debu dan abu di udara. Pemprov DKI mengerahkan sekitar 30 hingga 40 kendaraan gabungan milik Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan serta Dinas Pertamanan dan Hutan Kota. Penyemprotan dilakukan secara serentak pada berbagai koridor utama dan kawasan dengan aktivitas masyarakat yang tinggi. Operasi tersebut direncanakan berlangsung dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore, selama kondisi udara masih membutuhkan penanganan. Air yang disemprotkan diharapkan membantu mengikat partikel yang berada di udara sehingga mengurangi kemungkinan abu kembali beterbangan. Pelaksanaan water mist akan disesuaikan berdasarkan perkembangan kualitas udara dan kondisi sebaran material vulkanik.
Di tingkat provinsi, operasi water mist antara lain difokuskan di sepanjang koridor Sudirman hingga MH Thamrin. Armada juga diterjunkan ke berbagai wilayah kota administrasi dengan titik yang telah disesuaikan berdasarkan kebutuhan lapangan. Di Jakarta Utara, penyemprotan dilakukan antara lain di Jalan Yos Sudarso hingga kawasan Terminal Tanjung Priok dan Pluit. Jakarta Pusat mencakup kawasan Cempaka Putih hingga Gunung Sahari, sementara Jakarta Timur antara lain mencakup Jalan Pramuka, kawasan UKI, dan Terminal Kampung Melayu. Di Jakarta Selatan, operasi dilakukan pada koridor Rasuna Said hingga Gatot Subroto, sedangkan Jakarta Barat mencakup Jalan S. Parman, Daan Mogot, dan Tomang. Pemprov DKI juga mengajak pengelola gedung bertingkat yang mempunyai fasilitas water mist untuk mengoperasikan perangkat tersebut secara mandiri.
Pembersihan abu tidak hanya dilakukan melalui penyemprotan skala besar, tetapi juga melibatkan petugas di tingkat wilayah. Di Jakarta Utara, puluhan petugas gabungan diterjunkan untuk membersihkan material yang terdeteksi di sejumlah ruas jalan menggunakan kendaraan penyapu dan perangkat pendukung lainnya. Penanganan serupa dilakukan di Jakarta Barat melalui penyemprotan sejumlah ruas jalan utama. Pemerintah mengingatkan bahwa abu vulkanik yang mengendap sebaiknya tidak langsung disapu dalam keadaan kering karena partikelnya dapat kembali beterbangan. Permukaan yang terkena abu dianjurkan dibasahi terlebih dahulu atau dibersihkan menggunakan lap maupun pel lembap. Petugas lapangan juga perlu menggunakan masker dan perlindungan mata selama proses pembersihan.
Langkah kedua adalah menerapkan PJJ bagi seluruh satuan pendidikan di Jakarta mulai Senin, 7 September 2026. Kebijakan tersebut ditetapkan untuk mengurangi aktivitas siswa, guru, dan tenaga kependidikan di luar ruangan selama potensi paparan abu masih menjadi perhatian. Sekolah diminta menyesuaikan kegiatan pembelajaran sehingga proses pendidikan tetap berlangsung tanpa mengharuskan peserta didik melakukan perjalanan menuju sekolah. Pemerintah belum menetapkan tanggal pasti berakhirnya kebijakan tersebut karena pembelajaran tatap muka akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi. Evaluasi dilakukan dengan mempertimbangkan keberadaan abu vulkanik dan informasi kualitas udara terbaru. Dengan mekanisme tersebut, PJJ dapat dihentikan ketika situasi dinilai sudah memungkinkan kegiatan sekolah berlangsung secara normal.
Kebijakan pendidikan tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi paparan terhadap kelompok usia anak yang dinilai lebih rentan terhadap gangguan akibat abu. Partikel vulkanik berukuran halus dapat mengiritasi mata, kulit, serta saluran pernapasan ketika terhirup. Risiko membutuhkan perhatian lebih besar pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan asma, penyakit paru, maupun penyakit jantung. Pemprov DKI karena itu meminta masyarakat dari kelompok tersebut mengurangi kegiatan di luar rumah selama kondisi belum sepenuhnya membaik. Apabila harus keluar, warga dianjurkan menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi partikel yang baik dan memastikan masker menutupi hidung serta mulut secara rapat. Kegiatan olahraga di luar ruangan juga dapat ditunda apabila wilayah setempat mengalami hujan abu atau penurunan kualitas udara.
Langkah ketiga dilakukan melalui peningkatan pemantauan kualitas udara sekaligus kesiapsiagaan layanan kesehatan. Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta memperketat pengamatan terhadap kondisi udara menyusul terdeteksinya sebaran abu hingga sebagian wilayah Jakarta. Data tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam menentukan penyesuaian aktivitas masyarakat dan langkah mitigasi berikutnya. Pemerintah juga berkoordinasi dengan BMKG dan BPBD untuk memperoleh perkembangan aktual mengenai pergerakan material vulkanik. Sebaran abu dapat berubah karena dipengaruhi arah serta kecepatan angin sehingga kondisi antara satu wilayah dan wilayah lainnya tidak selalu sama. Karena itu, kebijakan pemerintah dapat disesuaikan apabila terdapat perubahan kondisi yang signifikan.
Selain langkah pemerintah, warga diminta melakukan perlindungan secara mandiri di lingkungan rumah. Pintu, jendela, dan ventilasi dianjurkan ditutup ketika terdapat abu di sekitar tempat tinggal untuk mengurangi masuknya partikel. Perangkat yang menarik udara langsung dari luar juga dapat dimatikan sementara apabila kondisi udara di sekitar rumah terdampak. Tempat penyimpanan air serta makanan perlu ditutup untuk mencegah kontaminasi abu. Jika terdapat endapan, masyarakat dianjurkan menggunakan metode pembersihan basah dan menghindari menyapu atau meniup abu dalam kondisi kering. Warga yang harus membersihkan material tersebut sebaiknya menggunakan masker serta pelindung mata untuk mengurangi paparan langsung.
Pemprov DKI sebelumnya juga mengambil tindakan antisipatif dengan mempercepat berakhirnya Hari Bebas Kendaraan Bermotor pada Minggu, 6 September. Kegiatan yang semula dijadwalkan berlangsung hingga pukul 10.00 WIB dihentikan pada pukul 09.00 WIB setelah rangkaian kegiatan masyarakat selesai. Petugas Dinas Perhubungan kemudian membagikan masker sekaligus mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa penyesuaian kegiatan masyarakat dapat dilakukan berdasarkan kondisi lapangan. Pemprov DKI menekankan setiap keputusan akan mempertimbangkan aspek kesehatan dan keselamatan warga. Masyarakat juga diminta tidak panik dan tetap mengikuti perkembangan melalui informasi resmi pemerintah.
Selama kondisi abu Anak Krakatau masih dipantau, tiga strategi berupa pengendalian partikulat melalui water mist, penerapan PJJ, serta pemantauan kualitas udara dan perlindungan kesehatan akan menjadi bagian penting dari mitigasi di Jakarta. Pemprov DKI memastikan koordinasi lintas instansi terus dilakukan agar perubahan kondisi dapat segera direspons. Warga yang mengalami batuk terus-menerus, iritasi mata yang memburuk, sesak napas berat, atau nyeri dada diminta segera mencari pertolongan di fasilitas kesehatan. Dalam kondisi darurat, masyarakat dapat menghubungi layanan Jakarta Siaga 112 yang beroperasi selama 24 jam. Pemerintah juga meminta warga tidak menyebarkan informasi mengenai erupsi maupun kualitas udara yang belum terverifikasi karena dapat menimbulkan kepanikan. Kewaspadaan yang proporsional serta kepatuhan terhadap langkah perlindungan diharapkan dapat mengurangi dampak kesehatan selama abu vulkanik Anak Krakatau masih memengaruhi wilayah Jakarta.