Jakarta, 26 Oktober 2026 – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia mempercepat proses konsolidasi dan penggabungan sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) untuk meningkatkan efisiensi serta memperkuat kinerja keuangan perusahaan. Melalui transformasi besar-besaran tersebut, Danantara menargetkan laba bersih konsolidasi BUMN mencapai Rp360 triliun sepanjang 2026. Target tersebut menjadi bagian dari strategi pembenahan perusahaan negara agar mampu menghasilkan keuntungan yang lebih optimal. Langkah ini juga diarahkan untuk mengurangi beban operasional serta memperbaiki struktur bisnis yang selama ini dinilai terlalu kompleks.
Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa konsolidasi menjadi salah satu langkah utama dalam meningkatkan profitabilitas perusahaan negara. Hal tersebut disampaikannya dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) di Jakarta, Senin (26/10/2026). Menurut Dony, transformasi pengelolaan BUMN tidak hanya dilakukan melalui penggabungan perusahaan, tetapi juga pembenahan model bisnis dan tata kelola keuangan. Danantara ingin memastikan setiap perusahaan yang berada dalam portofolionya mampu memberikan kontribusi ekonomi yang jelas. Dengan strategi tersebut, target laba bersih Rp360 triliun diharapkan dapat tercapai pada akhir tahun.
Danantara sebelumnya melakukan pemetaan terhadap 1.074 perusahaan yang berada dalam ekosistem BUMN, termasuk anak dan cucu usaha. Hasil evaluasi menunjukkan adanya sejumlah perusahaan dengan kegiatan usaha yang saling tumpang tindih, struktur organisasi berlapis, serta beban operasional yang tinggi. Kondisi tersebut dinilai mengurangi efisiensi dan membatasi potensi keuntungan perusahaan secara keseluruhan. Untuk mengatasi persoalan itu, Danantara menyiapkan strategi merger, likuidasi, restrukturisasi keuangan, dan divestasi. Penataan tersebut ditujukan untuk membentuk kelompok usaha yang lebih sederhana, kompetitif, dan berorientasi pada peningkatan nilai perusahaan.
Dalam rencana konsolidasi, sebanyak 23 perusahaan pengelola kawasan industri akan digabungkan menjadi satu entitas usaha. Penggabungan juga dilakukan terhadap lima perusahaan pengelola aset atau investasi agar memiliki struktur bisnis yang lebih terintegrasi. Sementara itu, sekitar 60 rumah sakit milik BUMN direncanakan berada di bawah satu induk perusahaan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan layanan kesehatan. Langkah serupa diterapkan terhadap sekitar 120 hotel yang akan disatukan dalam satu kelompok usaha. Konsolidasi tersebut diharapkan mampu mengurangi biaya administrasi, memperkuat koordinasi operasional, dan meningkatkan daya saing.
Penataan juga menyasar sektor jasa keuangan yang selama ini memiliki sejumlah perusahaan dengan kegiatan usaha serupa. Danantara berencana merampingkan 16 perusahaan asuransi menjadi tiga entitas utama yang berfokus pada asuransi jiwa, asuransi umum, dan asuransi kredit. Selain itu, perusahaan sekuritas dalam ekosistem BUMN juga diarahkan untuk dikonsolidasikan menjadi dua entitas. Penggabungan tersebut diharapkan dapat memperkuat permodalan dan meningkatkan efektivitas pelayanan. Namun, pelaksanaannya tetap memerlukan proses korporasi serta pemenuhan ketentuan regulator sesuai karakteristik masing-masing industri.
Selain merger, Danantara menjalankan restrukturisasi terhadap perusahaan yang mengalami tekanan keuangan maupun memiliki kegiatan usaha di luar bisnis inti. Perusahaan yang dinilai tidak lagi memiliki prospek ekonomi memadai dapat diarahkan menuju likuidasi, sedangkan unit usaha noninti berpotensi dilepas melalui divestasi. Dony mengungkapkan bahwa ratusan entitas telah dirampingkan sebagai bagian dari proses transformasi tersebut. Danantara juga menargetkan pengurangan jumlah perusahaan secara signifikan hingga akhir 2026. Dalam jangka panjang, penyederhanaan portofolio diharapkan membuat pengawasan dan pengambilan keputusan menjadi lebih efektif.
Hasil awal transformasi mulai terlihat dari peningkatan kinerja keuangan gabungan BUMN. Pada periode Januari hingga Agustus 2026, laba bersih gabungan perusahaan negara tercatat mencapai Rp214,9 triliun, meningkat 18,4 persen dibandingkan Rp181,5 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut menunjukkan adanya perbaikan profitabilitas di tengah proses pembenahan portofolio perusahaan. Tingkat pengembalian atas ekuitas atau return on equity juga meningkat dari 7,4 persen menjadi 8 persen secara tahunan. Meski demikian, realisasi laba selama delapan bulan pertama tersebut masih berada di bawah target konsolidasi Rp360 triliun untuk keseluruhan tahun.
Danantara juga melakukan pembenahan pada struktur biaya dan model bisnis sejumlah perusahaan strategis. Salah satu perhatian diberikan kepada perusahaan yang bergerak di sektor energi, pupuk, telekomunikasi, dan industri pengolahan. Melalui integrasi operasional, perusahaan diharapkan mampu mengurangi biaya yang tidak diperlukan sekaligus meningkatkan margin keuntungan. Dony menilai perbaikan tata kelola harus menjadi dasar utama dalam menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan. Karena itu, keberhasilan merger tidak hanya diukur dari berkurangnya jumlah perusahaan, tetapi juga dari peningkatan produktivitas dan kualitas kinerja keuangan.
Dengan target laba bersih konsolidasi Rp360 triliun pada 2026, Danantara berharap transformasi BUMN dapat memperbesar kontribusi perusahaan negara terhadap perekonomian nasional. Keuntungan yang dihasilkan berpotensi memperkuat kapasitas investasi serta mendukung pembiayaan berbagai kegiatan usaha produktif. Meski demikian, pencapaian target masih bergantung pada penyelesaian restrukturisasi, kondisi pasar, dan kinerja masing-masing perusahaan hingga akhir tahun. Danantara menegaskan pentingnya tata kelola yang transparan, efisiensi operasional, dan pengelolaan aset yang lebih optimal dalam menjalankan agenda tersebut. Melalui konsolidasi yang terarah, perusahaan negara diharapkan mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.