Riyadh, 2 Oktober 2026 – Arab Saudi menyatakan kelompok Houthi Yaman telah tiga kali berupaya menargetkan Makkah dan Madinah dalam sembilan tahun terakhir. Berdasarkan peninjauan terhadap pernyataan resmi Saudi, dua insiden terbaru terjadi sepanjang September 2026, sedangkan satu upaya sebelumnya dilaporkan pada Juli 2017. Tuduhan terbaru berkaitan dengan serangan terhadap fasilitas listrik di Madinah dan sebuah drone yang dicegat di wilayah selatan Makkah. Houthi membantah sebagian tuduhan yang disampaikan pemerintah Saudi tersebut.
Insiden terbaru terjadi pada 29 September ketika sebuah stasiun distribusi listrik Taibah di Madinah dilaporkan menjadi sasaran serangan drone. Juru Bicara Koalisi untuk Pemulihan Legitimasi di Yaman Mayor Jenderal Turki Al-Malki mengatakan penyelidikan terhadap puing drone mengarah pada keterlibatan Houthi. Serangan itu menyebabkan satu transformator tidak dapat beroperasi, tetapi tidak mengganggu jaringan listrik secara keseluruhan. Fasilitas tersebut memasok listrik bagi Masjid Nabawi, salah satu tempat suci utama umat Islam.
Houthi membantah bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas listrik tersebut. Perbedaan keterangan antara kedua pihak muncul ketika ketegangan Saudi-Houthi kembali meningkat setelah periode relatif tenang yang mengikuti gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2022. Arab Saudi menyebut hasil pemeriksaan pascainsiden dan puing drone sebagai dasar tuduhannya. Sementara itu, sumber militer Houthi yang dikutip media kelompok tersebut menolak laporan koalisi Saudi.
Sebelumnya pada 15 September 2026, pertahanan udara Arab Saudi juga mencegat dan menghancurkan sebuah drone di selatan Makkah. Koalisi pimpinan Saudi mengatakan drone tersebut dicegat sekitar pukul 18.50 waktu setempat sebelum memasuki wilayah udara terlarang Makkah. Riyadh menyebut kejadian itu sebagai upaya kedua Houthi menargetkan Makkah setelah insiden pada 2017. Namun, Houthi membantah telah meluncurkan drone tersebut dan menolak tuduhan pemerintah Saudi.
Upaya yang disebut Saudi sebagai serangan pertama dalam rangkaian tersebut terjadi pada 27 Juli 2017. Ketika itu, pertahanan udara Saudi dilaporkan mencegat rudal balistik yang ditembakkan dari wilayah Yaman dan disebut mengarah ke Makkah. Rudal berhasil dihancurkan sebelum mencapai sasaran dan tidak dilaporkan menimbulkan korban maupun kerusakan. Pemerintah Saudi kemudian kembali merujuk insiden 2017 tersebut ketika mengecam serangan drone yang terjadi pada September 2026.
Makkah dan Madinah memiliki posisi khusus bagi umat Islam karena menjadi lokasi Masjidil Haram dan Ka’bah serta Masjid Nabawi. Karena itu, tuduhan mengenai serangan yang mengarah ke dua kota tersebut memicu kecaman dari sejumlah negara Arab dan Muslim. Pemerintah Saudi menegaskan keamanan dua kota suci dan para jamaah merupakan prioritas yang akan dipertahankan. Riyadh juga menyatakan memiliki hak mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi wilayah, warga, penduduk, serta jamaah yang berada di Arab Saudi.
Ketegangan terbaru terjadi dalam konteks konflik panjang Yaman yang melibatkan Houthi dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Arab Saudi memimpin koalisi yang mendukung pemerintah Yaman sejak Maret 2015, sedangkan Houthi telah menguasai Sanaa dan sejumlah wilayah lainnya sejak 2014. Serangan lintas batas sempat jauh berkurang setelah gencatan senjata 2022, tetapi eskalasi kembali meningkat pada 2026. Dengan munculnya tuduhan serangan terhadap Makkah dan Madinah, perlindungan kawasan suci kembali menjadi salah satu isu utama dalam ketegangan antara Saudi dan Houthi.