Jakarta, 31 Oktober 2026 – Seorang remaja perempuan berusia 17 tahun asal Meksiko, Ángela Karime Venegas Hernández, berhasil menarik perhatian dunia melalui inovasi alat pemadam api yang memanfaatkan gelombang suara berfrekuensi rendah. Penemuan bernama Vortex Tech tersebut mengantarkannya meraih medali emas dalam ajang International Science and Invention Fair (ISIF) 2026 yang berlangsung di Indonesia pada 14–16 Oktober 2026. Berbeda dengan alat pemadam kebakaran konvensional yang menggunakan air, busa, atau bahan kimia, perangkat ciptaannya memanfaatkan getaran akustik untuk mengganggu proses pembakaran. Teknologi tersebut dirancang untuk memadamkan api kecil dalam waktu singkat tanpa menyemprotkan bahan pemadam secara langsung. Keberhasilan Ángela menjadi perhatian karena inovasi tersebut dikembangkan ketika dirinya masih menempuh pendidikan menengah atas. Prestasi ini juga menunjukkan bagaimana ketertarikan terhadap ilmu pengetahuan dapat berkembang menjadi penelitian yang memperoleh pengakuan internasional. Kompas+1
Ángela merupakan siswi Centro de Estudios Tecnológicos, Industriales y de Servicios (CETis) 78 di Altamira, negara bagian Tamaulipas, Meksiko. Ketertarikannya terhadap bidang teknologi mulai tumbuh ketika mempelajari elektronika pada semester kedua pendidikan menengah atas. Pada awalnya, ia tidak menyangka bahwa pelajaran tersebut akan menjadi bidang yang sangat menarik baginya. Namun, pengalaman mempelajari komponen elektronik dan prinsip kerja perangkat teknologi mendorongnya untuk mencoba mengembangkan sebuah inovasi. Gagasan menciptakan alat pemadam api menggunakan suara muncul setelah ia menyaksikan video eksperimen yang dilakukan Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) dari Amerika Serikat. Dalam tayangan tersebut, sebuah perangkat menyerupai meriam sonik berukuran sekitar empat meter digunakan untuk memadamkan api melalui gelombang suara. Eksperimen tersebut membuat Ángela tertarik mengembangkan teknologi serupa dalam ukuran lebih kecil agar prinsip kerjanya dapat diuji menggunakan perangkat sederhana.
Dalam proses pengembangan Vortex Tech, Ángela mendapat pendampingan dari pamannya, José Arturo Hernández Muñoz, yang berperan sebagai pembimbing penelitian. Keduanya mulai melakukan berbagai percobaan untuk memahami hubungan antara frekuensi suara, pergerakan udara, dan kestabilan nyala api. Prototipe pertama membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk diselesaikan, tetapi hasil pengujiannya masih belum memuaskan karena perangkat kesulitan memadamkan api secara konsisten. Kondisi tersebut membuat Ángela bersama pembimbingnya melakukan evaluasi terhadap bentuk perangkat, komponen elektronik, dan arah gelombang yang dihasilkan. Pengembangan kemudian berlangsung melalui beberapa tahap percobaan selama kurang lebih satu tahun hingga menghasilkan lima versi prototipe. Versi kelima menjadi perangkat yang akhirnya diperkenalkan kepada masyarakat dan menarik perhatian melalui media sosial. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah inovasi membutuhkan proses panjang yang melibatkan pengujian, kegagalan, dan penyempurnaan secara berulang.
Secara teknis, Vortex Tech menggunakan sejumlah komponen utama berupa baterai 12 volt, generator frekuensi, amplifier, pengeras suara, serta wadah yang dimodifikasi menyerupai meriam. Generator menghasilkan sinyal berfrekuensi sekitar 30 hertz atau setara dengan 30 getaran setiap detik. Sinyal tersebut diperkuat dan diteruskan menuju pengeras suara sehingga menghasilkan gelombang akustik berfrekuensi rendah. Gelombang kemudian diarahkan melalui saluran khusus menuju bagian depan perangkat untuk menghasilkan gangguan pada aliran udara di sekitar nyala api. Proses tersebut dapat membentuk pusaran udara berbentuk cincin yang dikenal sebagai vortex rings, sehingga kondisi udara yang menopang pembakaran menjadi terganggu. Ketika aliran udara dan pasokan oksigen di sekitar api tidak lagi mendukung kestabilan nyala, api kecil dapat padam. Prinsip kerja tersebut menjadi dasar penelitian Ángela dalam membuktikan bahwa gelombang suara memiliki potensi digunakan sebagai salah satu pendekatan alternatif untuk mengendalikan api. News+ on RCTI++1
Keunggulan yang ingin dikembangkan melalui teknologi ini adalah kemampuan memadamkan api tanpa meninggalkan residu air, busa, maupun serbuk kimia pada area yang ditangani. Pendekatan tersebut berpotensi menarik untuk diteliti lebih lanjut pada lingkungan yang memiliki peralatan sensitif terhadap cairan atau bahan pemadam tertentu. Meski demikian, Vortex Tech saat ini masih berada pada tahap prototipe eksperimental dan belum dapat dianggap sebagai pengganti alat pemadam kebakaran bersertifikasi. Keberhasilannya memadamkan api kecil tidak secara otomatis membuktikan bahwa perangkat tersebut efektif menghadapi kebakaran berukuran besar atau kondisi darurat yang kompleks. Faktor seperti jarak perangkat, intensitas api, jenis bahan yang terbakar, dan pergerakan udara di lingkungan sekitar dapat memengaruhi hasil pengujian. Pengembangan lebih lanjut membutuhkan penelitian mengenai daya yang diperlukan, jangkauan efektif, keandalan perangkat, serta keselamatan pengguna ketika menghadapi berbagai jenis kebakaran. Oleh sebab itu, penggunaan alat pemadam standar dan prosedur keselamatan kebakaran tetap menjadi langkah utama dalam menghadapi keadaan darurat.
Sebelum meraih penghargaan internasional di Indonesia, proyek Vortex Tech telah memperoleh pengakuan dalam sejumlah kompetisi sains tingkat negara bagian dan nasional di Meksiko. Keberhasilan tersebut membuka kesempatan bagi Ángela untuk memperkenalkan hasil penelitiannya kepada peserta dan juri dari berbagai negara dalam ajang ISIF 2026. Medali emas yang diraihnya menjadi bentuk apresiasi terhadap kreativitas, penerapan prinsip ilmiah, serta proses pengembangan teknologi yang dilakukan selama penelitian. Ángela mengungkapkan bahwa penghargaan tersebut memiliki makna lebih besar daripada sekadar pengakuan atas sebuah penemuan. Baginya, keberhasilan itu merupakan hasil dari ketekunan, keyakinan terhadap gagasan, dan kerja keras dalam mengatasi berbagai kesulitan selama proses eksperimen. Ia juga menyampaikan penghargaan kepada pamannya yang telah memberikan waktu, tenaga, serta kesabaran dalam mendampingi pengembangan proyek. Dukungan dari pemerintah daerah Altamira dan otoritas pendidikan Tamaulipas turut membantu pembiayaan keikutsertaannya dalam berbagai kompetisi sains.
Ke depan, Ángela berharap Vortex Tech dapat terus dikembangkan agar memiliki kemampuan yang lebih baik dan memberikan manfaat lebih luas. Meski telah memperoleh penghargaan internasional, ia mengakui bahwa proyek tersebut masih membutuhkan dukungan penelitian serta pengembangan teknologi lanjutan. Hingga pemberitaan mengenai prestasinya muncul, belum ada kepastian mengenai kerja sama komersial untuk memproduksi perangkat tersebut secara massal. Ángela sendiri masih mempertimbangkan pilihan pendidikan tinggi, terutama pada bidang teknik elektronika atau mekatronika yang berkaitan erat dengan minat penelitiannya. Kisahnya menjadi contoh bagaimana pendidikan sains dapat mendorong pelajar untuk mengubah gagasan sederhana menjadi proyek teknologi yang dapat diuji secara nyata. Keberhasilannya meraih medali emas di Indonesia juga memperlihatkan pentingnya kompetisi ilmiah internasional sebagai ruang pertukaran pengetahuan dan apresiasi terhadap kreativitas generasi muda. Melalui inovasi Vortex Tech, Ángela membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk melakukan eksperimen dan menghasilkan karya yang membuka peluang bagi pengembangan teknologi keselamatan pada masa mendatang.