Surabaya, 13 September 2026 – Persebaya Surabaya melakukan persiapan khusus menjelang pertandingan menghadapi PSIM Yogyakarta dengan menggelar tes Counter Movement Jump (CMJ) terhadap para pemain. Pengujian tersebut menjadi bagian dari pemantauan kondisi fisik skuad sebelum kembali menjalani pertandingan dengan intensitas tinggi. Melalui tes CMJ, tim pelatih dapat memperoleh gambaran mengenai kemampuan eksplosif otot kaki sekaligus melihat tingkat kesiapan fisik pemain setelah menjalani rangkaian latihan dan pertandingan. Data yang diperoleh kemudian dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan beban latihan menjelang laga berikutnya. Persebaya tidak ingin kondisi kelelahan pemain luput dari perhatian karena dapat memengaruhi performa ketika pertandingan berlangsung. Persiapan berbasis data tersebut diharapkan membantu Bajul Ijo tampil dalam kondisi optimal saat menghadapi PSIM.
Tes CMJ dilakukan dengan meminta pemain melakukan lompatan vertikal melalui gerakan yang telah ditentukan. Pengukuran dapat memberikan informasi mengenai kemampuan menghasilkan tenaga secara cepat dari bagian tubuh bawah. Dalam sepak bola, kemampuan eksplosif mempunyai peranan penting ketika pemain melakukan sprint, duel udara, perubahan arah, maupun berbagai gerakan dengan intensitas tinggi. Hasil pengujian juga dapat dibandingkan dengan data pemain pada periode sebelumnya untuk mengetahui perubahan kondisi fisik. Apabila terdapat penurunan yang cukup signifikan, tim pelatih dapat melakukan penyesuaian terhadap program latihan. Pendekatan tersebut membantu menghindari pemberian beban yang sama kepada pemain dengan tingkat kebugaran berbeda.
Pemantauan kondisi fisik menjadi semakin penting ketika tim menghadapi jadwal kompetisi yang menuntut pemain terus menjaga performa. Setelah menjalani pertandingan, tubuh membutuhkan waktu untuk memulihkan otot dan cadangan energi sebelum kembali mendapatkan beban tinggi. Setiap pemain dapat mempunyai tingkat pemulihan berbeda berdasarkan menit bermain, posisi, riwayat cedera, serta kondisi fisik masing-masing. Karena itu, pengamatan visual selama latihan saja tidak selalu cukup untuk mengetahui tingkat kesiapan pemain. Data dari tes fisik dapat melengkapi penilaian tim pelatih dan staf medis. Dengan informasi tersebut, program pemulihan dapat disusun lebih individual sesuai kebutuhan.
Persebaya membutuhkan kondisi pemain yang prima karena PSIM Yogyakarta berpotensi memberikan perlawanan ketat. Tim asal Yogyakarta tersebut mempunyai motivasi besar mendapatkan hasil maksimal sehingga Bajul Ijo tidak dapat hanya mengandalkan keuntungan dari kualitas individu. Intensitas sejak menit pertama perlu dijaga agar lawan tidak mendapatkan kesempatan mengendalikan permainan. Kemampuan melakukan pressing dan transisi juga sangat dipengaruhi kondisi fisik pemain. Ketika kebugaran menurun, jarak antarlini dapat semakin lebar dan lawan memperoleh ruang untuk membangun serangan. Situasi itulah yang berusaha diantisipasi Persebaya melalui persiapan terukur menjelang pertandingan.
Selain tes CMJ, program latihan tetap diarahkan pada aspek teknis dan taktis yang akan digunakan menghadapi PSIM. Pemain perlu memahami pola permainan lawan sekaligus menyiapkan solusi terhadap berbagai situasi yang mungkin muncul. Persebaya dapat berlatih membangun serangan dari lini belakang, melakukan tekanan ketika kehilangan bola, hingga mengantisipasi situasi bola mati. Efektivitas penyelesaian akhir juga menjadi bagian penting karena peluang yang tercipta harus dapat dikonversi menjadi gol. Seluruh latihan tersebut membutuhkan keseimbangan agar pemain mendapatkan persiapan cukup tanpa mengalami kelelahan berlebihan. Hasil pemantauan fisik membantu tim pelatih menentukan seberapa besar intensitas yang dapat diberikan.
Tes CMJ juga dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi pemain yang menunjukkan tanda kelelahan neuromuskular. Ketika kemampuan menghasilkan tenaga eksplosif mengalami penurunan dibandingkan kondisi normalnya, staf pelatih dapat mempertimbangkan kebutuhan pemulihan tambahan. Namun, hasil satu pengujian tidak dapat berdiri sendiri untuk menentukan apakah seorang pemain siap atau tidak tampil. Data tersebut perlu dikombinasikan dengan informasi lain seperti beban latihan, kondisi medis, kualitas tidur, keluhan pemain, dan hasil pemantauan selama latihan. Pendekatan menyeluruh memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kesiapan seseorang. Teknologi olahraga pada akhirnya berfungsi membantu pengambilan keputusan, bukan menggantikan penilaian tim pelatih dan tenaga medis.
Bagi Persebaya, menjaga kebugaran seluruh skuad juga berkaitan dengan kebutuhan mempertahankan konsistensi sepanjang kompetisi. Sebuah tim tidak cukup hanya mempunyai sebelas pemain utama dalam kondisi baik karena cedera dan akumulasi kartu dapat mengubah komposisi sewaktu-waktu. Pemain pelapis harus mempunyai tingkat kesiapan yang memungkinkan mereka langsung tampil ketika mendapatkan kesempatan. Karena itu, pemantauan fisik dilakukan terhadap skuad secara menyeluruh dan bukan hanya pemain yang diproyeksikan menjadi starter. Persaingan sehat antarpemain juga dapat meningkatkan kualitas latihan. Pelatih kemudian mempunyai lebih banyak pilihan ketika menyusun strategi berdasarkan karakter lawan.
Pertandingan menghadapi PSIM juga menjadi kesempatan bagi Persebaya untuk menunjukkan perkembangan permainan yang telah dibangun selama latihan. Bajul Ijo memiliki tuntutan besar untuk mendapatkan hasil positif karena dukungan suporter selalu mengiringi perjalanan tim. Namun, tekanan tersebut perlu dikelola agar pemain tetap mampu menjalankan rencana pertandingan dengan tenang. Keinginan mencetak gol cepat tidak boleh membuat keseimbangan pertahanan terabaikan. PSIM dapat memanfaatkan ruang apabila Persebaya terlalu banyak mengirim pemain ke depan tanpa perlindungan yang cukup. Kedisiplinan menjalankan struktur permainan karena itu akan menjadi faktor penting selain kemampuan fisik.
Tim pelatih juga perlu mempertimbangkan kondisi pemain hingga sesi latihan terakhir sebelum pertandingan. Perubahan dapat terjadi setelah tes dilakukan karena pemain masih menjalani beberapa sesi persiapan. Staf medis akan mempunyai peranan penting untuk memastikan pemain dengan keluhan tertentu mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan. Keputusan mengenai susunan pemain idealnya mempertimbangkan kondisi terkini dan bukan hanya reputasi maupun performa pada pertandingan sebelumnya. Pemain yang mempunyai kebugaran lebih baik dapat menjadi pilihan apabila kebutuhan taktik memungkinkan. Pendekatan tersebut membantu Persebaya menjaga intensitas permainan sepanjang 90 menit.
Pelaksanaan tes CMJ menjelang menghadapi PSIM Yogyakarta pada akhirnya menunjukkan perhatian Persebaya Surabaya terhadap detail kondisi fisik pemain. Data kemampuan eksplosif dari tes tersebut dapat membantu staf pelatih melihat respons tubuh setelah menjalani beban latihan dan pertandingan. Informasi itu kemudian menjadi salah satu dasar untuk mengatur intensitas latihan, pemulihan, dan kesiapan pemain sebelum laga. Persebaya tetap harus menggabungkan pendekatan tersebut dengan persiapan teknis, taktik, serta mental untuk menghadapi PSIM. Kondisi fisik yang baik akan membantu pemain menjalankan strategi dengan intensitas tinggi dan mempertahankan konsentrasi hingga akhir pertandingan. Bajul Ijo kini berupaya memastikan seluruh aspek persiapan berjalan optimal agar dapat mendapatkan hasil maksimal ketika kembali turun ke lapangan.