Jakarta, 29 Mei 2026 – Konsep halal dalam dunia bisnis kini dinilai berkembang jauh melampaui sekadar pemenuhan sertifikasi produk. Perubahan cara pandang tersebut menjadi salah satu fokus utama dalam peluncuran buku terbaru bertajuk Authentic Halal Brand yang diterbitkan oleh IHATEC Publisher. Dalam buku tersebut, dua merek milik ParagonCorp, yakni Wardah dan Kahf, disebut sebagai contoh brand yang berhasil mengimplementasikan nilai halal secara menyeluruh dalam strategi bisnis mereka. Kedua merek tersebut bahkan ditempatkan pada tingkat maturitas tertinggi dalam konsep Authentic Halal Brand karena dinilai mampu menghadirkan nilai halal secara konsisten, mulai dari proses bisnis hingga kontribusi sosial kepada masyarakat.
Buku yang diluncurkan pada Mei 2026 tersebut mengangkat berbagai studi kasus mengenai perkembangan industri halal modern yang semakin menempatkan halal sebagai representasi transparansi, integritas, dan tanggung jawab sebuah merek. Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap nilai-nilai yang diusung sebuah produk, banyak perusahaan mulai mengembangkan pendekatan yang lebih autentik dalam menerapkan prinsip halal. Menurut konsep yang diangkat dalam buku tersebut, halal tidak lagi dipandang hanya sebagai standar kepatuhan administratif, tetapi juga sebagai fondasi budaya perusahaan, inovasi, dan pengalaman yang dirasakan konsumen. Pendekatan inilah yang disebut menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan jangka panjang terhadap sebuah merek.
Founder Inspark Indonesia sekaligus penggagas konsep Authentic Halal Brand, Dr. Wahyu T. Setyobudi, menjelaskan bahwa perusahaan saat ini dituntut untuk menghadirkan nilai halal secara lebih mendalam dan konsisten dalam identitas maupun arah bisnis mereka. Dalam pandangannya, konsumen modern tidak hanya memperhatikan aspek legalitas atau sertifikasi, tetapi juga ingin melihat bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam praktik bisnis sehari-hari. Karena itu, konsep Authentic Halal Brand menekankan pentingnya integrasi nilai halal ke dalam budaya organisasi, inovasi produk, hingga dampak sosial yang dihasilkan perusahaan. Pendekatan ini dianggap relevan dengan perkembangan industri halal global yang terus tumbuh dan semakin kompetitif.
Dalam buku tersebut, Wardah disebut sebagai salah satu merek yang berhasil mengubah persepsi masyarakat terhadap konsep halal di industri kecantikan Indonesia. Sejak awal kemunculannya, Wardah tidak hanya menjadikan halal sebagai atribut produk, tetapi juga sebagai nilai yang mendorong keberdayaan, keberanian, dan inklusivitas bagi berbagai kelompok konsumen. Sementara itu, Kahf dinilai berhasil menerjemahkan nilai halal ke dalam pendekatan yang relevan bagi pria modern melalui konsep yang lebih dekat dengan gaya hidup dan pengembangan diri. Kedua merek tersebut dianggap mampu menghadirkan pesan halal yang tidak bersifat formalistik semata, tetapi juga dapat dirasakan dalam pengalaman konsumen sehari-hari.
Para pengamat industri halal menilai bahwa perkembangan konsep halal yang lebih luas menunjukkan perubahan perilaku konsumen yang semakin memperhatikan aspek nilai dan tanggung jawab sosial perusahaan. Saat ini, konsumen tidak hanya menilai kualitas produk, tetapi juga memperhatikan bagaimana sebuah merek menjalankan bisnisnya, mulai dari proses produksi hingga kontribusinya terhadap masyarakat. Karena itu, pendekatan yang menempatkan halal sebagai bagian dari identitas perusahaan dinilai memiliki potensi untuk memperkuat loyalitas konsumen dalam jangka panjang. Tren ini juga terlihat dalam berbagai sektor industri, termasuk kosmetik, makanan, logistik, hingga perhotelan yang mulai mengintegrasikan nilai halal secara lebih komprehensif.
Selain membahas Wardah dan Kahf, buku Authentic Halal Brand juga menghadirkan berbagai studi kasus dari beragam sektor industri yang menunjukkan bagaimana nilai halal dapat menjadi fondasi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. IHATEC melalui publikasi tersebut berharap semakin banyak pelaku usaha memandang halal bukan hanya sebagai standar kepatuhan, tetapi sebagai kerangka nilai yang mampu membangun kepercayaan, loyalitas konsumen, serta memberikan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat. Dengan semakin berkembangnya industri halal di tingkat global, pendekatan berbasis nilai dinilai akan menjadi salah satu faktor penting yang membedakan sebuah merek di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.
Kehadiran Wardah dan Kahf sebagai studi kasus dalam buku terbaru IHATEC menunjukkan bahwa konsep halal kini semakin berkembang menjadi bagian dari strategi bisnis yang lebih menyeluruh. Banyak pihak menilai pendekatan tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan konsumen terhadap merek yang tidak hanya menawarkan produk berkualitas, tetapi juga memiliki nilai yang jelas dan konsisten. Dengan menjadikan halal sebagai fondasi budaya perusahaan dan hubungan dengan konsumen, kedua merek tersebut dinilai berhasil membangun identitas yang kuat di pasar. Perkembangan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana industri halal Indonesia terus bergerak menuju model bisnis yang lebih modern, adaptif, dan berorientasi pada keberlanjutan.