Jakarta, 28 Mei 2026 – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI mendorong langkah reforestasi atau penanaman kembali hutan sebagai bagian penting dalam proses rehabilitasi pascabencana di wilayah Sumatera. Dorongan tersebut disampaikan di tengah upaya pemerintah melakukan pemulihan terhadap sejumlah daerah terdampak bencana alam yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan infrastruktur di berbagai wilayah pulau tersebut. Menurutnya, rehabilitasi pascabencana tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan kembali fasilitas fisik, tetapi juga harus memperhatikan pemulihan ekosistem dan keseimbangan lingkungan jangka panjang. Kawasan hutan yang rusak akibat bencana maupun aktivitas manusia dinilai perlu segera dipulihkan agar mampu kembali menjalankan fungsi ekologisnya dalam menjaga kestabilan lingkungan. Reforestasi juga dianggap penting untuk mengurangi risiko bencana lanjutan seperti banjir dan longsor yang kerap terjadi di sejumlah daerah Sumatera.
Dalam keterangannya, Waka Komisi IV DPR menilai banyak wilayah terdampak bencana memiliki kondisi tutupan hutan yang sudah mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Situasi tersebut membuat daya dukung lingkungan melemah sehingga kawasan menjadi lebih rentan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanah longsor. Karena itu, proses rehabilitasi pascabencana sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang lebih menyeluruh melalui penguatan konservasi lingkungan dan penataan tata kelola lahan. Program penanaman pohon kembali di kawasan kritis disebut dapat membantu memperbaiki daya serap air tanah, mengurangi erosi, dan menjaga kestabilan ekosistem jangka panjang. Selain melibatkan pemerintah, program reforestasi juga dinilai perlu melibatkan masyarakat lokal agar proses pemulihan lingkungan berjalan lebih berkelanjutan.
Pengamat lingkungan menjelaskan bahwa hutan memiliki peran sangat penting dalam menjaga keseimbangan alam dan mengurangi dampak bencana di kawasan dengan curah hujan tinggi seperti Sumatera. Akar pohon membantu menyerap air dan menjaga struktur tanah tetap stabil sehingga mampu mengurangi risiko longsor maupun aliran banjir yang berlebihan. Ketika kawasan hutan mengalami kerusakan atau alih fungsi secara besar-besaran, kemampuan lingkungan menahan air dan menjaga kestabilan tanah ikut menurun drastis. Pengamat menilai reforestasi pascabencana bukan hanya soal menanam pohon kembali, tetapi juga memperbaiki tata kelola lingkungan secara menyeluruh agar kerusakan tidak terus berulang. Selain penanaman, pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan dan perlindungan kawasan hutan juga dianggap sangat penting untuk keberhasilan jangka panjang.
Di sisi lain, pengamat kebencanaan menilai pendekatan berbasis lingkungan semakin penting dalam sistem penanganan bencana modern. Banyak negara kini mulai menggabungkan pembangunan infrastruktur dengan restorasi alam untuk memperkuat ketahanan wilayah terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Di Indonesia, wilayah-wilayah dengan kondisi geografis rawan bencana membutuhkan strategi rehabilitasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga berorientasi jangka panjang terhadap keberlanjutan lingkungan. Masyarakat lokal juga dianggap memiliki peran penting dalam menjaga kawasan hutan karena mereka merupakan pihak yang paling dekat dengan lingkungan sehari-hari. Karena itu, edukasi dan pemberdayaan masyarakat dalam program konservasi dinilai menjadi bagian penting dari proses rehabilitasi pascabencana.
Dorongan reforestasi dalam rehabilitasi pascabencana di Sumatera menunjukkan semakin kuatnya perhatian terhadap pentingnya pemulihan lingkungan dalam proses pembangunan kembali wilayah terdampak. Bencana alam tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga sering memperlihatkan lemahnya daya dukung lingkungan akibat kerusakan ekosistem yang berlangsung lama. Banyak pihak berharap program rehabilitasi pascabencana dapat dilakukan secara lebih menyeluruh dengan menggabungkan pembangunan infrastruktur dan pemulihan alam secara seimbang. Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem, perlindungan hutan dan ekosistem dinilai menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Dengan langkah reforestasi yang konsisten dan melibatkan masyarakat, wilayah terdampak bencana diharapkan dapat menjadi lebih tangguh dan berkelanjutan pada masa mendatang.